Belajar Membuat Keputusan Sejak Dini Itu Penting

Sejak dulu saya memiliki ukuran standar kualitas kompensasi itu dengan unit waktu yang saya berikan. Semisal waktu pertama kali bekerja di semester 7 pada tahun 2007 saya di gaji awal karena masih mahasiswa Rp 1,5 jt dengan jam kerja senin – Jumat pukul 6 pagi sudah berangkat dari rumah sampai rumah lagi paling cepat jam 8 malam. Maka saat itu setiap hari saya habis waktu sekitar 10 jam sehari bekerja, berarti sebulan 10x6x4= 240 jam, berarti rate saya per jam saat itu Rp 6.250 per jam, maka kesimpulan saya saat itu pas lulus maka perkerjaan ini harus di tinggal, tak layak.

Sebelum masuk KAP saya cari info Big 4 gimana cara kerjanya dari kakak Senior dan berapa gaji maksimal dengan lembur perbulan, atas informasi itu saya putuskan masuk KAP kecil dimana pas lampu mati bisa keluar kantor dan pergi ke slipi jaya nonton Film yang waktu itu masih Rp 30.000, dan disaat kerjaan gak ada alias kerjaan sepi, saya bisa puas main inet di kantor baca buat persiapan kuliah malamnya. atau saya tidur siang di kamar kantor, hampir tiap hari dari pada buang waktu, tapi pas banyak kerjaan bisa tahan banting makanya parter saya sering kasih kerjaan yang banyak cabang atau agak rumit, dan gak akan lembur di kantor mending kerja dirumah kalau memang tambah waktu.

Waktu kerja di KAP menengah,saya paling malas lembur,beberapa kawan paling kenal saya, bahkan ada senior saya menasehati saya, bahwa saya kok bisa tega ninggalin orang pada lembur trus saya pulang,sebenarnya alasannya karena yang nyuruh lembur datangnya jam 8 atau jam 9 malam karena dia kerumah pacarnya dulu dan yang begitu gak bisa saya jadikan patokan, makanya masa bodohlah, yang penting sebelum pulang saya tanya apa kerjaan bagian saya, yang penting besok butuh , besok saya serahkan dan saya gak akan lembur, karena lebih baik pulang cepat ketemu calon bini , nonton, makan dan ngobrolin masa depan, karena ini masa menyatukan visi untuk keyakinan mengajak dia nikah. Kalau gak ketemu dia ya langsung pulang.

Setelah sampai rumah mandi, nonton DVD, sampai jam 10 kemudian baru kerjakan apa yang jadi kerjaan tadi. Makanya saya jam 17.00 teng pasti da siap-siap rapihkan laptop untuk pulang. Makanya budaya itu juga ada sama saya, jika jam 5 saya masih kerja dikantor trus staff saya masih belum rapihkan laptop pasti saya tanya, kalian gak pulang? Karena kadang mereka gak enak pulang kalau kita masih kerja, saya selalu bilang gak usah tunggu saya, atau biasanya saya jam 16.30 langsung pulang lanjuti kerja dirumah supaya mereka bisa pulang jam 5 teng.

Setelah menikah dimana kami langsung di karunia kellsey, dan gak punya pembantu dan istri masih cuti, maka sebelum kerja saya mandikan bayi dulu, trus jam 16.00 cabut dari kantor karena ingat anak saya belum mandi, karena saat itu anak bagi saya lebih berharga dari semuanya, sampai pada sebuah titik cuti istri habis mulailah kami berunding dan menghitung penghasilan masing-masing dan siapa yang paling aman, maka analisa saya bilang istri sementara dia masuk saja kantor dan saya akan mengajukan cuti tanpa gaji untuk jaga anak sampai dapat pengasuh yang dipercaya, saya mengajukan cuti dengan keputusan mantap jika bosnya nolak maka saya berhenti saat itu, maka terbuatlah keputusan saya cuti selama 2 bulan mengurus bayi yang masih umur 1 bulan. Waktu itu saya sudah jadi dosen tetap paruh waktu ( Home based ) disalah satu kampus, saat ada kebutuhan ngajar yang jaraknya dari rumah hanya 5 menit, maka kami panggil tetangga yang bantu setrika dirumah buat jaga anak saya sekitar 2,5 jam sampai saya balik dari kampus, seminggu ngajar sekitar 3 kali.

Dari pengalaman ini saya jadi tau mengurus bayi itu susah, maka pengasuh anak itu harus di bayar layak, diperlakukan layak dan di hargai. Walau terkadang dari pengalaman banyak yang aneh-aneh juga kalau di baikin.
Dasar Pemikiran itu lah saya memutuskan tidak jadi karyawan orang lama-lama, sewaktu jadi auditor pertama kali, itu saya sambi sambil ngajar, dimana waktu rasanya rate mengajar masih jauh lebih baik per jamnya ketimbang jadi auditor. Sekarang untuk mengambil sebuah pekerjaan meski di kerjakan dirumah komponen dasar perhitungan di atas juga saya pakai plus tambah variable lain.

Anak saya, selalu saya latih buat pilihan sejak dini, anak kedua tahun lalu setiap pagi di anter sekolah terlihat murung, tiap pagi nangis dan banyak drama, ternyata dia tidak mau sekolah karena bosan dengan rutinitas dan duduk lama, di pagi hari sebelum berangkat sekolah saya tanya maunya dan kami berunding, maka saya kasih pilihan home schooling boleh tapi belajar harus lebih baik, dia pilih dan jalankan dan hasilnya lebih baik, lebih happy dan makin semok, anak pertama memilih tetap sekolah karena butuh temen katanya, ya silahkan sekolah tapi kemarin setelah lama libur hampir 3 bulan karena COVID 19 dia sudah mengajukan proposal lulus kelas 4 mau home schooling saja, berarti dari sekarang harus mulai cari tempat les komputer buat dia tahun depan. Anak ke 3 umur 4 tahun, dia selalu tidak suka pakai celana protes katanya mirip laki, ya sudah saya putuskan jangan pernah belikan celana, suruh dia pilih baju yang dia suka yang penting jangan terbuka, ternyata suka daster dan rok panjang.

Pola perundingan untuk menentukan pilihan juga berlaku hampir tiap hari, Sebelum ke sebuah swalayan kita berunding dulu, dia mau beli apa berapa jumlahnya dan berapa max nominalnya, lebih dari itu pakai uangnya sendiri, uang dari mana uang dari insentif kalau ulang tahun, dapat nilai bagus, sisa uang jajan, atau insentif kalau hapalan suratnya selesai. Kalau uang itu terserah dia belikan mainan berapa nilai yang dia mau selagi uangnya cukup. Ternyata malah mereka jadi sangat perhitungan, kadang sering milih barang yang murah karena takut uangnya habis dan besok gak bisa beli mainan lagi, akhirnya mereka mendapat sebuah pembelajaran yang penting.

Kita harus melatih diri kita ,anak-anak kita dan keluarga membuat pilihan yang ada di depannya melalui diskusi, karena tantangan hidup dimasa Depan, mungkin jauh lebih berat dengan persaingan yang ketat, yang lama buat keputusan akan tertinggal.

Facebook Comments