Wabah COVID 19 Mempercepat Penerapan Revolusi Industri 4.0 di Perguruan Tinggi

COVID 19 ternyata banyak membuat perubahaan, salah satunya mempercepat penerapan Revolusi Industri 4.0 di dunia pendidikan, akhirnya kita sadar mau tidak mau semua terkait dengan dunia pendidikan sekarang harus mengarahkan aktivitas pembelajarannya menggunakan teknologi jarak jauh, tak ada alasan gak punya anggaran dan SDM yang yang belum siap semua harus dilakukan meski belum sempurna dan tertatih-tatih. Sebagian Perguruan tinggi yang memiliki anggaran dan SDM yang cukup langsung mengembangkan sistem dan merubah pola akan melanjutkan pengajaran online ini dimasa depan. Mereka mulai melakukan pendataan terhadap tenaga pengajar yang cepat beradaptasi dengan teknologi, khususnya yang masuk dalam daftar ini adalah tenaga pengajar muda, maka akan ada nantinya tenaga pengajar yang akan tereliminasi secara pelan-pelan mungkin dengan pengurangan jam mengajar atau diberikan kedalam kelompok team teaching dalam proses pengajarannya. Keputusan ini harus di ambil oleh Perguruan Tinggi karena memang memiliki manfaat yang cukup banyak selain juga tantangan yang di hadapi juga banyak.

Manfaat yang dapat dirasakan oleh perguruan tinggi antara lain turunnya biaya operasional seperti listrik, biaya tenaga kebersihan, biaya kertas, biaya tinta dan biaya tenaga pendukung, jika aturan memungkinkan maka tidak heran kedepan banyak kampus yang bermunculan seperti Universitas Terbuka tidak memiliki ruang kuliah akan tetapi bisa memiliki mahasiswa tersebar di seluruh dunia. Selain manfaat juga tantangan di hadapi juga ada seperti jaringan internet yang belum memadai, kesiapan tenaga pengajar terhadap pengoperasian teknologi yang masih kurang, anak didik yang kurang disiplin dan benturan aturan serta ancaman cyber crime. Mungkin setelah Covid 19 ini sampai 5 tahun kedepan kualitas pendidikan kita akan bergeser sementara karena penyesuaian ini tapi akan meningkat lagi sesuai grafik kesadaran masyarakat terhadap teknologi. saya melihat di dunia telekomonukasi karena perang harga akhirnya mereka memilih kepada volume penggunaan maka sangat tetap pola pembelajaran online akan meningkatkan penggunaan kuota internet sehingga perang harga atas kuota internet di dunia telekomunikasi mendapat jawaban. 4 tahun saya mengelola bisnis reatil besar produk multi provider melihat grafik perang harga antar brand sudah sangat tidak sehat, akan tetapi perang harga ini menguntungkan pengguna karena bisa menikmati kuota internet yang terjangkau. Jadi ini bisa sebagi solusi kelangkaan jaringan internet yang di sediakan pemerintah, walau sejak 5 tahun lalu pemerintah sudah melakukan menyebaran pembanguan viber optik hingga ke papua akan tetapi belum efektif beroperasi maksimal. Maka solusi sementara adalah teknologi internet berbasis satelitlah yang dapat di gunakan. 

Alokasi cost perguruan tinggi dari efisensi yang terjadi bisa digunakan penambah subsidi kuota internet bagi tenaga pengajar dan siswa, ini sudah dilakukan oleh beberap perguruan tinggi selama masa wabah covid 19 ini, saya melihat rentang subsidi yang di berikan yang saya rasakan mulai dari retang Rp 70.000 sd 250.000, ini kalau di setarakan dengan kuota internet termurah sekitar 20GB sd 60 GB dan ini cukup jika hanya di gunakan untuk proses mengajar saja. Jadi pertanyaan sudah siapkah kita semua untuk mengalami pergeseran ini? Jawaban ada di masing-masing kita setuju tidak setuju maka pergeseran terus terjadi seperti berputarnya bumi pada porosnya.

Facebook Comments